Jakarta, 20/12/2019 – KEBUMIAN.indonesiaku! | Sumber Daya Alam Indonesia sangat luar biasa ragam jenisnya yang sudah dikaruniakan Sang Khaliq, Allah Yang Maha Kuasa kepada kebumian Indonesia.

Patutlah bersyukur dan berbangga menjadi orang Indonesia karena hampir semua kebutuhan pokok yang primer, sekunder, tertier telah tersedia di kebumian Indonesia yang permai ini.
Diantaranya ada berbagai jenis kopi dari Sabang sampai Merauke yang berlimpah, semua tergantung manusia nya bagaimana mampu mengelola kekayaan alam ini yang tentu sangat mempunyai daya jual beli sebagai komoditas yang dapat mendatangkan devisa negara.

Namun tetap mempunyai aturan besaran proporsional yang layak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sendiri karena jangan sampai produk komoditas yang berkualitas semuanya terjual ke luar negeri sementara Anak Negeri hanya menikmati ampasnya saja.

Tentu saja sebaiknya tidak demikian. Bangsa Indonesia seharusnya berhak menikmati kekayaan alam Negeri Indonesia sendiri , bukannya justru Bangsa Luar yang menikmati hasil kebumian Indonesia. Dan perlunya kesadaran akan cinta tanah air dimulai dari kita mencintai produk-produk hasil olahan Anak Negeri Indonesia.

Marilah kita mulai dari keluarga kita sendiri untuk mencintai semua produk hasil karya cipta kreasi dari Anak Bangsa Indonesia yang juga banyak berprestasi di dunia Internasional. Jika bukan kita yang mencintai produk kita sendiri , siapa lagi ? Dia atau Kita ? Dia siapa ? Kita siapa ? Mari bersatu membangun Negeri bersama si Anak Negeri , dimulai dari si Anak Kampoeng yang Berbudaya dan Cinta Tanah Air. Karena Cinta kepada Tanah Air adalah sebagian dari IMAN.

Love of KOPI [ Originally
Indonesia’s Product
Commodity ] is actually
our daily life for this
COFFEE!

Where we go bring our
love COFFEE. And make
the best moments
of MY INDONESIA’S
COFFEE!

▪ KOPI [ Komoditas Produk Indonesia ] yang juga terkait komoditas kuliner KOPI – yang saat ini Komoditas kopi sedang menjadi salah satu potensi usaha yang berkembang DESA [Kampoeng] di Desa Giritirto Kecamatan Karanggayam.  Tak lekang waktu masih dalam ingatan sebagian dari kita mendengar seputar warga Dukuh Kedunglo desa setempat menjadikan wilayahnya sebagai wisata Kampoeng Gemplong. Disebut demikian, karena sebagian besar warganya melakukan aktivitas ‘Nggemplong’ atau menumbuk | #GEMPLONG4E

Di tengah banyaknya varian cara pengolahan kopi, namun warga Desa Giritirto tetap mempertahankan cara tradisionalnya. Seluruh proses pengolahan kopi di Kampung Gemplong masih dilakukan secara manual. Mulai dari memilah biji kopi, menampi, menyangan (menyangrai), menumbuk dengan digemplong, hingga mengayak serbuk kopi dilakukan oleh ibu-ibu.

Mempertahankan pengolahan cara tradisional oleh masyarakat bukan tanpa sebab. Masyarakat meyakini, cara tersebut mampu menciptakan aroma dan rasa khas yang berbeda dengan kopi dari daerah lain. Terlebih, tidak ada campuran bahan apapun untuk kopi yang lebih dikenal dengan kopi Gemplong Subileng ini.

▪ Proses #GEMPLONG4E – layaknya kita meng ‘KOEAS’ | menguas – semakin kita memahami hakekat menuumbuk atau juga menguas – adalah sebuah proses yang seolah tampak kasat mata mudah, namun RASA ITU MEMANG SUDAH ADA SAAT INI | NAMUN RASA #youngBERBUDAYA saatnya telah hadir saat ini melalui #KEBUMIANkebumenYOUNGberbudayaDANyoungASYIK!

@maglemoe | Kabari Ning Sih 20.12.2019