Jakarta 14/09/2019 • AYOKOEAS.INDONESIAKU.net – Mulai hari pertama di bulan September hingga 26 hari ke depan setelahnya Oxfam Great Britain (GB) mengadakan kampanye #SecondHandSeptember di media sosial Instagram dan Twitter. Mangangkat tagline “saying no to new”, organisasi nirlaba ini mengajak warga dunia untuk hanya membeli pakaian bekas, vintage, thrift, atau hasil daur ulang untuk mengurangi konsumsi fesyen yang memberi masalah terhadap keberlangsungan lingkungan dan penghuninya. Setiap minggu akan diundi satu orang pemenang beruntung yang mengikuti kampanye ini dengan cara mengunggah foto pakaian “saying no to new” kesukaannya.

Pemilihan isu dalam kampanye itu memang penting dan sudah seharusnya menjadi perhatian oleh masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Namun yang tidak kalah krusial adalah bagaimana semua orang dapat melihat hubungan aspek ekologi dan ekonomi politik yang terjadi di belakang industri fesyen khususnya fast fashion sebagai penyumbang kerusakan lingkungan yang utama di sektor industri tersebut.

Dalam waktu dekat akan diadakan sebuah kegiatan Pameran Seni & Budaya dengan Tajuk REKONSILIASI oleh komunitas Seni & Budaya (  Adhicipta Art Community ) yang memilki anggota komunitas beragam dari berbagai unsur, adalah sebuah rekonsiliasi kegiatan seni dan budaya yang tidak dapat dipandang sebelah mata, karena di dalam kegiatan ini banyak terlibat para pihak yang terjun di bidang edukasi, lingkungan, pemberdayaan masyarakat termasuk dalam percepatan pembangunan daerah serta bidang lain yang tergolong peduli terhadap pentingnya integritas baik dalam hal seni, budaya serta yang utama adalah pemberdayaan akan karya Anak Negeri untuk mendapatkan keutuhan NKRI termasuk juga keutuhan dari kedaulatan negeri ini melalui seni dan budaya itu sendiri.

Dengan maraknya fenomena serta gaya hidup dan sudah menjadi sebuah kebutuhan atau permintaan untuk fast fashion dari sisi konsumen pada pembuka konten artikel ini , maka rantai kerusakan lingkungan oleh industri fesyen akan terus berlanjut. Apalagi dalam konteks masyarakat yang terintegrasi dengan sistem kapitalistik global, budaya konsumtif telah mengaburkan kesadaran kita untuk mengaitkan perilaku konsumtif khususnya dalam hal konsumsi pakaian dengan sumbangan pola produksi pakaian cepat, banyak, murah dan sekali pakai terhadap keberlanjutan kelestarian lingkungan.

Penyelesaian persoalan lingkungan bukan lagi hanya tentang mengatur perilaku individu per individu dalam berinteraksi dengan lingkungan, melainkan perlu memutus campur tangan sistemik dari kerja kapitalisme modern yang turut menentukan dan membentuk perilaku individu yang bersifat destruktif terhadap lingkungan untuk menguntungkan segelintir orang saja. Konsumen harus lebih kritis dan selektif lagi agar tidak membeli pakaian-pakaian baru tanpa pertimbangan utilitas dan memperhatikan komitmen merek yang memproduksi pakaian kesukaannya terhadap biaya sosial dan penanganan limbah hasil sampingan dari proses produksi.

Semoga program dan kegiatan REKONSILIASI PAMERAN SENI & BUDAYA yang menghadirkan karya dari lebih kurang 24 Pelaku dan Pegiat Seni & Budaya Indonesiaku ini yakni antara lain : Hartati Tjahyono, Mozes Misdy, Adji Djojo, Anny Djon, H.Winarno, Supi’ie, Suleman, Thoyib Tamsar, Maria Novita, S. Pandji, Nuniek Silalahi, Lis S Toyo, Dinar, M Fauzi, Cak Kandar, Q Sakti Laksono, Her Roesmadhi, Iwan Mas’ud, Nunung Bakhtiar, R Nagayomi, Wadji Iwak, Laras, Ida Fitriyah dan AJS. Noegroho Soerjonegoro, yang akan digelar pada tanggal 16 s/d 20 September 2019 di Galeri Prabangkara Jln . Genteng Kali 85 Surabaya – Jawa Timur yang direncanakan akan dibuka oleh DR.H. Emil Elestianto Dardak, M.Sc. diharapkan adalah Momen yang menjadi titik awal bagi rekonsiliasi terkait pemahaman akan pentingnya dan perlunya disegerakan akan pentingnya Kolaborasi teknOlogi Edukasi budayA melalui Seni, sehingga menjadikan transformator bagi minimal 777 ( Tujuhratus Tujuhpuluh Tujuh ) desa di Jawa Timur dan sebuah program yang nantinya dapat menjadi bagian dari rekonsiliasi di kurang lebih 80.000’an ( Delapanpuluh ribuan) Desa di Indonesia, layaknya kerajaan Madjapahit dengan Gajah Mada nya mampu menjadi pemersatu NUSANTARA, dan saatnya komunitas Adhicipta Art Community ( AAC ) menjadi PENA MAS bagi Anak Negeri INDONESIAKU melalui Teras Seni & Jendela Budaya Indonesiaku !

REKONSILIASI sebuah kegiatan Seni dan Budaya di Galeri Seni Prabangkara yakni salah satu Galeri Seni dan Budaya di Kawasan Kota Surabaya ini, diharapkan dapat juga menjadi bagian dari pada sebuah gagasan kegiatan komunitas yang saat ini sedang terus berkembang di era teknologi dan media sosial yang sedang marak, serta mulai menjadi fenomenalnya sebuah aktivitas kegiatan online daripada komunitas lain yang juga terkait dengan kegiatan Seni dan Budaya ini, yakni Komunitas Alumni serta juga komunitas yang tentunya perlu menjadi ‘Layang Guru’ untuk kita semua yakni Komunitas Pengajar serta Motivator yang terus menjadi bagian yang tak terlepaskan dalam perkembangan dan gaya hidup serta fesyen dari Anak Negeri.

Sehingga menjadi sebuah kegiatan yang tak semata Rekonsiliasi Seni dan Budaya, namun menjadi ajang rekonsiliasi Teknologi, Edukasi, Budaya serta dan melalui Seni bagi Anak Negeri dan juga lingkungan sekitarnya terdekat mulai dari Keluarga serta kelak akan memasuki etika berbudaya tentunya sebagai pelaku kreativitas baik melalui seni murni dan seni tidak murni yang terus berkembang dan tentunya diimbangi dengan dampaknya terhadap lingkungan yang ada disekitarnya…

Kegiatan Seni & Budaya dengan tema REKONSILIASI ini menjadi penting dan juga menghadirkan banyak harapan terutama di era digital atau era yang penuh disrupsi saat ini sedang melanda Negeri Tercinta INDONESIAKU ! Karena di luar lingkaran Seni dan Budaya, tentunya tidak banyak karya yang dapat dipahami oleh orang lain yang dengan nalar dapat mudah menggugat dan mengandung muatan sensitifnya sesuai dengan alam pikiran serta kreatifitas yang timbul dalam menikmati sebuah Karya Seni, baik murni ataupun Karya yang bukan dari kelompok seni murni yang kadang jauh dari inspirasi seseorang karena jauh kedepan dan saat ini dikenal dengan seni instalasi serta kreativitas digital . .

Menjadi perbincangan publik yang dapat menjadi konten yang menarik dan juga menjadi perhatian publik lantaran sebuah portal online atau lebih dari satu portal karena mudahnya untuk mengakses secara interkoneksi yang turut menyebarkan dengan judul yang sangat provokatif dan kontroversi untuk dapat membangunkan animo publik yang begitu besar, sehingga dapat menjadi viral. Apalagi, dalam dunia digital, viral merupakan salah satu mode of production yang mampu memprofilerasi sebuah keunikan atau sesuatu yang sarat kontroversi sehingga menembus semua ruang yang mengkasatkan antara yang private dan publik, adalah bagian dari upaya untuk menjadikan Rekonsiliasi menjadi hal yang esensial . .

Karena dampaknya, penikmat Seni dan Budaya di era digital yang intens berinteraksi dengan dunia maya larut dalam penilaian parsial dapat menimbulkan sebuah realitas sebuah Karya yang bisa membangun sebuah institusi sebuah hasil Karya.

Oleh karenanya saatnya Literasi Seni dan Budaya, Industri Kreatif serta interkoneksi dalam rekonsiliasi saat ini sangatlah dibutuhkan . .

Selamat Berkarya dan terus menjadikan Negeri ini semakin SEHAT, semakin SELAMAT serta menjadi Nutrisi Anak Negeri kelak dengan membangun bersama Sinerji dan Enerji melalui kegiatan Seni dan Budaya yang dapat menjadikan Negeri INDONESIAKU sebagai Teras Seni & Jendela Budaya sekaligus sebagai Jendela Inspirasi Gaya Hidup dengan adanya konten-konten yang ditumbuh kembangkan melalui kolaborasi tekonologi edukasi dan Budaya melalui Seni . . Seni Menulis dan Mencoret yang tentunya juga dibutuhkan juga seni menumbuh kembangkan melalui komunitas yang sesuai terutama para penggiat edukasi.

▪Qana B. Ningsih | lesehanindonesia.com | e4secretary.my.id

.