Jakarta (04/03/2019) – LESEHANMOE • Menjadikan semua aktifitas di era globalisasi menjadi sebuah gaya hidup yang penuh harapan adalah sangat penting untuk kita mampu memberikan perhatian khusus pada aktivitas yang berkaitan dengan Perilaku Orangtua (Lansia) yang dalam kategori pandangan sebagai manusia adalah saat-saat dimana menjelang kematian, sisa usia dimana kita seharusnya menjadi lebih memahami akan adanya jeda atau batas yang kita harus mampu untuk jadikan sebagai Emulsi bagi kelompok Lansia dan kelompok produktif yang penuh dengan kreativitas.

Dengan menyimak data dari tahun ke tahun, jumlah lansia (60 tahun ke atas) semakin meningkat. Tahun 1970 jumlahnya mencapai 5,3 juta orang, pada 1990 menjadi 12,7 juta orang, dan Tahun 2010 menjadi 24 juta jiwa. Jumlah orang lanjut usia (lansia) di Indonesia menduduki nomor empat di dunia, setelah China, India dan USA. Di Indonesia, harapan hidup lansia rata-rata mencapai 72 tahun. Untuk perempuan sedikit lebih panjang, sehingga bagi yang telah berusia mencapai batas usia ini (72tahun) tentulah menjadi hal yang sangat penting dalam kita memahami sikap dan perilaku kelompok Lansia ini.

Pengalaman dalam mendampingi komunitas atau keluarga dengan keluhan orangtua yang berusia lanjut adalah, mereka merasa dilematis apakah merawat sendiri orang tua yang sudah sepuh atau memasukkan ke panti jompo.

Sering muncul konflik antara mereka dengan orangtua, antara mereka bersaudara kandung. Kadang satu sama lain saling mengklaim bahwa dirinyalah yang paling peduli orang tua, lainnya tidak, khusus pada beberapa keluarga justru pihak Lansia lah dipihak yang berkeinginan untuk tinggal di panti jompo.

Meninggal Di Usia Sepuh Adalah Hal Penting

Pasangan yang berusia 70-80 an memiliki kepastian yang lebih tinggi untuk ditinggal ( Meninggal lebih dulu ) oleh pasangannya dibandingkan mereka yang berusia 30-an. Namun bukan berarti kematian di usia 80an ini dirasakan sebagai sesuatu yang lebih mudah dan tidak menjadi hal yang penting.

Ditinggalkan pada usia Lansia jauh lebih sulit, sebab kemungkinan untuk menikah lagi sangat minim. Jadi kemungkinan merasa kesepian jauh lebih kuat. Ujung dari keindahan perkawinan bagi pria khususnya menjadi terasa kejam dan pahit. Saat isteri meninggal, para pria umumnya tidak bisa mengatasi kesendiriannya dengan baik, berbeda sebaliknya justru pada kaum wanita.

Ada beberapa hal menarik yang perlu ditangani oleh seorang terapis keluarga :

Ada beberapa pergumulan lansia menjelang meninggal dunia. Di antaranya, bagamana mengatasi berbagai kesulitan yang muncul, sebab dia seakan-akan merasa duduk di satu tempat di mana semua “Seperti KRL yang berhenti hanya sedang dan melaju dengan cepat meninggalkan sendiri di stasiun”. Ada juga fenomena dimana terasa sedang menunggu kematiannya : bayang bayang ( Orientasi ) pada anak dan mantu akan memperebutkan warisan. Karena pengkajian yang terjadi selama ini anak-anak kurang akur.

Pada umumnya ada kekhawatiran pada saat seorang ibu menikah kembali, keluarga akan tetap berjalan. Seorang ibu akan memastikan hal ini. Namun pada saat seorang ayah menikah kembali, keadaan keuangan menjadi tidak aman dan pernikahan seorang ayah akan meletakkan hambatan antara ayah dan anak-anaknya sebab ayah akan bergabung dengan keluarga isteri (baru) nya, adalah bagian yang terasa penting bagian perilaku lansia dan lingkungannya.

OW! YOI! Pernahkah terpikir bahwa salah satu keuntungan menjadi orang miskin adalah biasanya anak-anak Anda akan bersukacita saat Anda menikah lagi di masa tua. Dilain situasi anak-anak juga menghadapi keadaan yang sulit pada saat menemukan orangtuanya hidup sendirian, siapa yang akan mengurus. Saling menuduh antara anak akan timbul disini.

Konten diatas adalah hal penting yang kadang terkesan terlewat kita amati.

Sindrom lansia – Keluarga Merasa Banyak Kesulitan Saar Orang Tua Mereka Mulai Lanjut Usia.

1. Ortu mereka menjadi sangat khawatir akan kesehatannya padahal dia sehat-sehat saja, sebaliknya juga merasa anak-anak atau cucunya akan menjadi beban jika dilihat atau dirasakan kurang sehat seperti biasanya.

2. Menjadi suka dan terus-menerus berbicara tentang masa lalu, dan selalu menuntut perhatian untuk minta didengarkan. Sebaliknya tidak nyaman jika anak-anak atau menantu sebaliknya beberapa saat bercerita masa lalunya.

3. Orang tua mudah marah karena hal-hal sepele, cenderung kaku dan otoriter. Biasanya setelah orang tua mulai pikun barulah anak anak mulai menyadari bahwa maaf kita melihat dari sisi lain , yakni daya pikir / otak orang tuanya mungkin sudah tidak lagi berfungsi dengan baik. Mereka sadar perilaku orang tua yang mudah marah itu mungkin merupakan usaha dia mengatasi kesulitan tersebut, hal ini yang harus mampu untuk kita jadikan hal penting untuk menjadi konten bahasan di era globalisasi yang semua sebagai terbuka tanpa hambatan

▶ Next to OmahKEMASAN

©aiPIE2019
@MagLeMoe
KampoengKEMASAN.com
AIRkemasan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here