JAKARTA 23/02/2019 ▪ PusatLiputan.com – Arus Digital yang lebih akrab dikenal Era Now ( Milenia ) sungguh menjadi era fenomenal dan banyak hal yang dapat “menarik” yang mengalir dan tanpa dapat ditolak terus memasuki segala aspek dalam kehidupan masyarakat dewasa ini.

Budaya Milenia menjadikan gaya hidup ( E-Life style) yang merupakan dampak paling kentara akibat fenomena yang tanpa disadari menjadi keseharian ( Ordinary ) walaupun belum tentu Original . Globalisasi sendiri diartikan sebagai proses mendunianya seluruh kehidupan sosial, ekonomi, politik hingga budaya antara satu negara dengan negara lainnya hingga seluruh dunia dinyatakan tidak memiliki ‘batas’ alias borderless. Dan inilah yang menjadikan era tanpa batas menjadikan era milenia menjadi era fenomenal.

Berbagai konten yang masuk dengan bebas tanpa dapat dicegah, integrasi dengan berbagai aspek & permasalahan tiap negara dengan mudahnya terserap baik diminta atau dengan mudahnya melalui fasilitas notifications yang masuk melalui internet, media sosial, maupun aplikasi berbasis internet lainnya dalam satu perangkat yang disebut gadget ( termasuk aneka Games termasuk di dalamnya ).

Saat ini menjadi konsumsi dikalangan generasi muda Indonesiaku sehingga dapat juga disebut sebagai generasi gadget atau yang sering dikenal seperti yang sudah disebut diawal artikel ini yakni sebagai generasi milenial atau Era Now !

Bagaimana menyikapi derasnya arus teknologi yang semakin pesat berkembang dan akhirnya menggilas waktu kita untuk menggeluti hal ini, siap tidak siapnya kita dalam menerima arus gadget mania ini harus tetap dibuat batasan-batasannya pada diri kita masing-masing , agar tidak tergilas derasnya arus informasi via gadget. Bijaklah kepada diri kita sendiri untuk memilah derasnya arus informasi dari gadget yang kita miliki. Ingat saat ini… the world is in your hand.

Secara meluas kalangan remaja Indonesia telah mengenal dan menggunakan akses internet dalam keseharian mereka yang sudah menjadi gaya hidup ( E-Lifestyle ). Dan yang menjadi fenomenalnya adalah pada kenyataannya kebanyakan dari mereka belum mampu untuk memilah antara aktivitas internet yang bersifat positif dan negatif, serta cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial mereka dalam penggunaannya.

Inilah yang saat ini sudah menjadi kekhawatiran serta sudah masuk pada tahapan keluhan masyarakat akhir- akhir ini, hingga telah memasuki Fenomena Mental Cause tak semata Generasi muda bangsa juga para pendahulu yang seharusnya menjadi komunitas yang terintegrasi baik secara Sinerji atapun Enerji yang persuasif supportif dalam menunjang kemajuan bangsa, namun saat ini justru muncul berbagai perilaku kesehariannya yang mengesampingkan etika dan moral. Waktu demi waktu terus berlalu, namun dampak yang ditimbulkan arus globalisasi kian marak dalam budaya anak muda saat ini.

OW! YOI! ( OW – Originally Woman through Young & Older Integrity ) saatnya kita yang sebagian besar masyarakat khususnya wanita sebagai komunitas terbesar selain anak muda yang di era milenia ( era now ) telah terpengaruh oleh budaya barat yang dijadikan sebagai ‘kiblat’ setiap perilaku mereka, sehingga hilanglah sudah identitas dan jati diri mereka sebagai Bangsa Indonesia, yang memiliki konsep Keluarga & Budaya yang tentunya memiliki perbedaan semata INDONESIAku adalah Negeri Young Kaaffah semata Ridho Illahi ( Hakekat NKRI ) sangatlah perlu berkaca dari permasalahan yang terjadi, maka AYO ! sudah saatnya kita bersegera melakukan upaya-upaya yang dapat membangun karakter bangsa khususnya dalam hal budaya di Era Milenial ini ( Character through Integrity Empowerment by Personality Imvolment Energizing ).

Melalui konten 4E ( Education, Environment, Empowerment & Energizing ), adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan – melalui proses pendidikan ( Reference through by : Pola & Model yang diterapkan di sekolah-sekolah. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa, “pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak )” – Dengan dikemas melalui 4E diatas diimplementasikan dengan Model & Modul KOEAS ( Kolaborasi teknOlogi Edukasi budayA melalui SENI (ART) ) adalah bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup Anak Negeri INDONESIAku !

Karenanya yang perlu ditingkatkan adalah pemahaman tentang Nation Character ( Karakter Bangsa ) termasuk didalamnya adalah tentang Budaya & Keluarga. Karena pembentukan karakter seseorang juga terpengaruh dari budaya keluarga dan lingkungan sosialnya.

AYO! Kita bersama membangun QVA dalam menilai dan mengimplementasikan pesan yang didapatkan dalam pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peranan yang besar dalam membangun karakter bangsa Indonesia, dan dengan percepatan yang terjadi di era milenia saat ini perlu sudah waktunya penambahan sinerji & enerji edukasi dengan pemahaman Lingkungan, Pengembangan SDM serta mengimbangi Percepatan.

Dan yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah apakah proses pendidikan di Indonesia hingga saat ini belum menunjukkan adanya pembangunan karakter bangsa? Sehingga terkesan tergolong Djadoel ? AYO saatnya INDONESIAku ZILAU tak semata sebatas menjadi Pusat Liputan melalui UKM4Gallery & DESA.ws

Sehingga terkesan sampai saat ini pendidikan di Indonesia merupakan pendidikan yang masih berorientasi pada penyampaian teori daripada penerapannya dalam kehidupan. Sehingga tidak ada keseimbangan antara IPTEK dengan akhlak atau perilaku generasi muda, saatnya kita memahami hakekat QVAassesor sebagai pendampingan baik dari sisi Edukator, Siswa termasuk Keluarga dan Budaya.

Seiring berjalannya waktu, dimana generasi muda sudah saatnya siap bersama dengan generasi “Djadoel” yang saat ini justru lebih mudah terpengaruh oleh arus globalisasi yang melunturkan perilaku-perilaku kebangsaan mereka ( Tak sebatas Generasi Mudanya juga di lingkup Generasi ‘Djadoel’, padahal ilmu yang diberikan baik di sekolah maupun di kampus tergolong semakin berat dan mulai bersaing dengan ilmu yang berada di luar sana. Keseimbangan diantara berbagai pihak ( OW! YOI! ) saling Bersinerji & Berbagi Enerji yang mana keduanya ( Aspek Teknologi & Budaya ) dapat diserap dan diperoleh generasi muda yang didukung bersama generasi-pendahulunya untuk tercapainya kecerdasan serta bermartabat ( Attitude ) yang siap memajukan bangsa dengan model Emphatically.

Dengan menyimak elemen pokok dalam pendidikan yaitu aspek-aspek affective, cognitive, dan psychomotoric saatnya PHISYCHOMOTORIC melalui Phisycolog Endorsement untuk mengimbangi dan mengatasi kesenjangan Mental Cause yang muncul akibat belum siapnya para generasi muda bahkan lingkungan terdekatnya ( Keluarga serta Komunitas sekitarnya )

Disaat inilah semakin pentingnya peran ilmu psikologi / kejiwaan dalam menghadapi semua permasalahan yang timbul akibat daripada efek gadget mania. Karena sangat dashyatnya efek mental seseorang pasca aktifnya orang tsb di dumay ( dunia maya ) atau seringnya orang tsb berselancar di internet, tetap membawa dampak psikologis kepada orang ybs dan lingkungannya.

Ingat jangan anggap hal sepele bahwa semakin pesatnya kemajuan iptek harus diselaraskan dengan peran ilmu psikologi dan agama agar dapat mengantisipasi side effect gadget mania.

Aspek kognitif yang diharapkan dalam program QVAassesor sekaligus juga mulai dengan akan menghadirkannya kembali Media yang berorientasi E4Secretary ( Aktivitas Secretary dengan konten 4E – bagian dari BookKOEAS – dari Modul KOEAS ) diharapkan dapat menghasilkan kemampuan peserta QVAassesor kelak untuk menyampaikan kembali materi atau ilmu pengetahuan yang didapatkannya melalui konten yang diberikan serta tak semata menyerap namun juga memahami untuk mengelola dan mengembangkannya dan selanjutnya dalam tahapan-tahapan Penerapan, Analisis, mensintesis, dan Evaluasi hasil Mentoring yang didapat / dikelola bersama.

Tentunya aspek afektif ( affective ) dikaitkan dengan bagaimana sikap dan cara peserta QVAassesor dapat menilai dalam menerima konten yang ada sebagai MediaHUB, dan sudah dibarengi aspek psikomotorik dengan adanya keikutsertaan aspek psikologi sebagai kompetensi dalam menerapkan konten-konten yang terdapat dalam QVAassesor modul dan model dalam MediaHUB yang ada yang kelak menjadikan MAG LE’MOE sebagai afektif Brain Awareness HUB content.

MAG LE’MOE adalah Magazine LESEHAN MOE, yaitu LESEHAN ( LEmbar SEHat Anak Negeri, Lembar Edukasi Seputar Energi Hijau Anak Negeri ) & MOE ( Management of Emphaty ) yang menginspirasi dan mengajak bangkitnya kepedulian terhadap keberlangsungan eksistensi Anak Negeri Indonesia ( Masyarakat Bangsa Indonesia ).

Dalam memberikan pemahaman mulai dari Keluarga dan Budaya adalah bagian utama dalam pembentukan karakter bangsa dan harus terus dikembangkan nilai-nilai yang pada intinya sudah pada tahapan memahami BUDAYA MALU pada diri komunitas QVAassesor melalui pembelajaran pada Mata, Hati, Telinga, Otak dan Fisik dimana kali ini sudah diharapkan akan pemahaman TEKNOLOGI adalah Teknik Olah Otak dan Logika dengan Model dan Modul KOEAS.

Keterkaitan dalam hal ini, konten LAYANG GURU sebagai bagian dari Model dan Modul Guru maupun komunitas Pendidik lainnya merupakan interaksi konten dan media HUB yang sesungguhnya adalah berfungsi /berkedudukan sebagai fasilitator yang memiliki peran untuk membimbing komunitas QVAassesor hingga mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya, serta mengembangkan proses untuk berbagi pengetahuan dengan sekitar sehingga ilmu yang diserap dapat diterapkan pada orang lain dan lingkungan sekitar.

Lebih pentingnya lagi apabila dalam penerapannya juga dilakukan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian dalam bergaul di lingkungan masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan bermartabat sehingga hakekat Edukasi, Lingkungan, Pemberdayaan dan Percepatan ( 4E : Education Environment Empowerment Energizing ) ini berjalan saling bersinerji dan juga memberikan Enerji dalam bentuk Character Attitude Imvolvement through Personality Integrity by Emphaty ( CAIpie ).

Filosofi CAIpie ( baca CAI pie = CAI pay , CAI piye ) adalah CAI dalam arti bahasa Sunda yaitu AIR, sedangkan pie ( dibaca piye , arti dalam bahasa Jawa = bagaimana ? ), sehingga yang dimaksudkan adalah AIR nya bagaimana ? Bagaimana jalannya AIR ? Adalah gambaran Bagaimana Hidup kita ini ? Bagaimana mengelola hidup di dunia dan di akhirat nanti ?

Banyak orang berkata biarkan seperti air mengalir, let it flow … justru seharusnya kitalah yang mengatur dan mengelola bagaimana arus air itu sebaiknya mengalir dengan baik dan benar.

Hakekat pada dasarnya pendidikan yang juga dimulai dari Keluarga, dalam memahami hakekat budaya sebagai Nationwide Character ( Karakter Kebangsaan ) sebaik-baiknya dapat dimaknai sebagai konten yang mengembangkan nilai – nilai budaya dan karakter bangsa pada diri QVAassesor itu sendiri sebagai warga negara yang religius, nasionalis, dan kreatif sehingga dapat mewujudkan kemajuan dan keunggulan bangsa di masa mendatang dengan dimulainya adanya Integritas antara generasi DJADOEL dengan YOUNG generation secara Awareness yang di bangun dengan Attitude through Young Orientation sehingga akan terus tumbuh kembang AYO !

Dimana Funding Father telah memberikan pernyataan bahwa bangsa Indonesia merupakan kesatuan seluruh wilayah dan hati Bangsa Indonesia serta kepercayaan diri bangsa Indonesia yang tinggi sehingga mampu menjadi bangsa yang patut dibanggakan.

Berkaca dari pendapat yang telah dikemukaan oleh beliau, maka solusi yang paling tepat dalam membangun karakter bangsa di era millenial saat ini adalah dengan membangun dan menata kembali ( REVITALITATION ) karakter dan watak bangsa Indonesia sendiri dengan terus melakukan pengembangan diri untuk menerapkan pendidikannya di masyarakat dan selalu didampingi dengan kegiatan REINVENTARISASI secara system . . .

Disinilah diharapkan Kreativitas dan Inovasi yang Original dan Ordinary yang terkait dengan lingkungan untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan karakter bangsa yang religius, nasionalis dan kreatif sehingga saat ini menjadi Trend sebagai INDUSTRI KREATIF !

AYO ! OW ! YOI ! saatnya kita bangun sinerji dalam pemahaman yang termasuk di dalamnya pada 80ribu-an DESA / KAMPOENG, yang tentunya memiliki DIALEG / Bahasa serta Kebudayaan di setiap daerah adalah sangat mungkin dan seharusnya dapat dijadikan salah satu sarana yang efektif dalam penyampaian ilmu di masyarakat. Pendidikan ‘luar kelas’ pun juga dapat diterapkan agar peserta didik tidak terpaku pada hafalan materi yang ia dapatkan, selain disajikan beberapa studi kasus atau menganalisis langsung suatu permasalahan dalam masyarakat kemudian diterapkan dalam proses kehidupannya juga dapat diberikan dalam bentuk MEDIA OFF PRINT yang telah termasuk dalam Kemasan KOEAS ( BookKOEAS, KartoeKOEAS, KaosKOEAS serta QioskKOEAS ) sebagai inovasi kolaborasi yang Original dan Ordinary !

Dan juga perlu diperhatikan secara cermat penerapan yang dilakukan haruslah sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku sehingga tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat dari setiap komunitas yang terbangun di dalamnya atau interaksi yang ada pada dan dari 80 DESA / KAMPOENG, dan disinilah peran dari kaum cendekiawan sangat diperlukan untuk meningkatkan pendidikan dan karakter bangsa yang lebih inovatif kedepannya untuk memajukan Bangsa Indonesia.

AYO ! OW ! YOI ! bersegera mewujudkan generasi milenial ini bukanlah semata sebagai generasi gadget mania, melainkan sebagai generasi pembangun karakter bangsa yang siap memajukan Indonesia dengan tak melupakan hakekat QVA atau CAIPIE itu sendiri sebagai Quality Value of ART serta Character Attitude through Imvolvement by Personality Integrity by Emphaty !

@djadoel4e l @maglemoe l @ngoewas4e
©aiPIE2019