Banner1

LESEHANmoe

Home LESEHANmoe

YOUNG & OLDER INTEGRITY through E-LIFESTYLE by EMPHATY

0

Jakarta (04/03/2019) – LESEHANMOE • Menjadikan semua aktifitas di era globalisasi menjadi sebuah gaya hidup yang penuh harapan adalah sangat penting untuk kita mampu memberikan perhatian khusus pada aktivitas yang berkaitan dengan Perilaku Orangtua (Lansia) yang dalam kategori pandangan sebagai manusia adalah saat-saat dimana menjelang kematian, sisa usia dimana kita seharusnya menjadi lebih memahami akan adanya jeda atau batas yang kita harus mampu untuk jadikan sebagai Emulsi bagi kelompok Lansia dan kelompok produktif yang penuh dengan kreativitas.

Dengan menyimak data dari tahun ke tahun, jumlah lansia (60 tahun ke atas) semakin meningkat. Tahun 1970 jumlahnya mencapai 5,3 juta orang, pada 1990 menjadi 12,7 juta orang, dan Tahun 2010 menjadi 24 juta jiwa. Jumlah orang lanjut usia (lansia) di Indonesia menduduki nomor empat di dunia, setelah China, India dan USA. Di Indonesia, harapan hidup lansia rata-rata mencapai 72 tahun. Untuk perempuan sedikit lebih panjang, sehingga bagi yang telah berusia mencapai batas usia ini (72tahun) tentulah menjadi hal yang sangat penting dalam kita memahami sikap dan perilaku kelompok Lansia ini.

Pengalaman dalam mendampingi komunitas atau keluarga dengan keluhan orangtua yang berusia lanjut adalah, mereka merasa dilematis apakah merawat sendiri orang tua yang sudah sepuh atau memasukkan ke panti jompo.

Sering muncul konflik antara mereka dengan orangtua, antara mereka bersaudara kandung. Kadang satu sama lain saling mengklaim bahwa dirinyalah yang paling peduli orang tua, lainnya tidak, khusus pada beberapa keluarga justru pihak Lansia lah dipihak yang berkeinginan untuk tinggal di panti jompo.

Meninggal Di Usia Sepuh Adalah Hal Penting

Pasangan yang berusia 70-80 an memiliki kepastian yang lebih tinggi untuk ditinggal ( Meninggal lebih dulu ) oleh pasangannya dibandingkan mereka yang berusia 30-an. Namun bukan berarti kematian di usia 80an ini dirasakan sebagai sesuatu yang lebih mudah dan tidak menjadi hal yang penting.

Ditinggalkan pada usia Lansia jauh lebih sulit, sebab kemungkinan untuk menikah lagi sangat minim. Jadi kemungkinan merasa kesepian jauh lebih kuat. Ujung dari keindahan perkawinan bagi pria khususnya menjadi terasa kejam dan pahit. Saat isteri meninggal, para pria umumnya tidak bisa mengatasi kesendiriannya dengan baik, berbeda sebaliknya justru pada kaum wanita.

Ada beberapa hal menarik yang perlu ditangani oleh seorang terapis keluarga :

Ada beberapa pergumulan lansia menjelang meninggal dunia. Di antaranya, bagamana mengatasi berbagai kesulitan yang muncul, sebab dia seakan-akan merasa duduk di satu tempat di mana semua “Seperti KRL yang berhenti hanya sedang dan melaju dengan cepat meninggalkan sendiri di stasiun”. Ada juga fenomena dimana terasa sedang menunggu kematiannya : bayang bayang ( Orientasi ) pada anak dan mantu akan memperebutkan warisan. Karena pengkajian yang terjadi selama ini anak-anak kurang akur.

Pada umumnya ada kekhawatiran pada saat seorang ibu menikah kembali, keluarga akan tetap berjalan. Seorang ibu akan memastikan hal ini. Namun pada saat seorang ayah menikah kembali, keadaan keuangan menjadi tidak aman dan pernikahan seorang ayah akan meletakkan hambatan antara ayah dan anak-anaknya sebab ayah akan bergabung dengan keluarga isteri (baru) nya, adalah bagian yang terasa penting bagian perilaku lansia dan lingkungannya.

OW! YOI! Pernahkah terpikir bahwa salah satu keuntungan menjadi orang miskin adalah biasanya anak-anak Anda akan bersukacita saat Anda menikah lagi di masa tua. Dilain situasi anak-anak juga menghadapi keadaan yang sulit pada saat menemukan orangtuanya hidup sendirian, siapa yang akan mengurus. Saling menuduh antara anak akan timbul disini.

Konten diatas adalah hal penting yang kadang terkesan terlewat kita amati.

Sindrom lansia – Keluarga Merasa Banyak Kesulitan Saar Orang Tua Mereka Mulai Lanjut Usia.

1. Ortu mereka menjadi sangat khawatir akan kesehatannya padahal dia sehat-sehat saja, sebaliknya juga merasa anak-anak atau cucunya akan menjadi beban jika dilihat atau dirasakan kurang sehat seperti biasanya.

2. Menjadi suka dan terus-menerus berbicara tentang masa lalu, dan selalu menuntut perhatian untuk minta didengarkan. Sebaliknya tidak nyaman jika anak-anak atau menantu sebaliknya beberapa saat bercerita masa lalunya.

3. Orang tua mudah marah karena hal-hal sepele, cenderung kaku dan otoriter. Biasanya setelah orang tua mulai pikun barulah anak anak mulai menyadari bahwa maaf kita melihat dari sisi lain , yakni daya pikir / otak orang tuanya mungkin sudah tidak lagi berfungsi dengan baik. Mereka sadar perilaku orang tua yang mudah marah itu mungkin merupakan usaha dia mengatasi kesulitan tersebut, hal ini yang harus mampu untuk kita jadikan hal penting untuk menjadi konten bahasan di era globalisasi yang semua sebagai terbuka tanpa hambatan

▶ Next to OmahKEMASAN

©aiPIE2019
@MagLeMoe
KampoengKEMASAN.com
AIRkemasan.com

Membangun Kolaborasi Melalui Kemasan Karakter Ritel Produk Anak Negeri melalui UKM4Gallery

0

JAKARTA 04/03/2019, DJADOEL Tempoe Doeloe ritel-ritel sangat digemari dan digilai masyarakat luas. Banyak sekali masyarakat yang menghabiskan waktu dan uangnnya dengan berbelanja ke toko-toko dan tempoe doeloe DJADOEL ada istilah dan lagunya #JalanJalanSore (JJS)

Namun, baru-baru ini di salah satu media Journal terkemuka di New York sempat bertanya bagaimanakah nasib peritel era now dan prediksi Era Z generation kelak ? Apakah akan mampu bangkit kembali menjadi PusatLIPUTAN ? Pasalnya seiring kemajuan jaman saat ini banyak anggapan jika perusahaan ritel tergerus dengan maraknya bisnis online dan terbukti di realese Media Online terbesar di Indonesia 5 (Lima) Ritel Outlet besar ( Mall ) mulai sepi pengunjung . . .

Untuk memahami bagaimana peritel ini – akhirnya – beradaptasi dari dinosaurus ke digital di era Unicorn, mari kita back to ReUNI on Line dari masa lampau dari sudut pandang pengecer :

1. Tahun 80-an

Tahun 80an merupakan tahun di mana banyak perusahaan ritel bermunculan. Sejalan dengan itu, masyarakat pun langsung menggilai ritel-ritel yang berdiri saat itu.

Mengapa? Karena ritel-ritel menyajikan segalanya untuk kehidupan masyarakat. Pelanggan hanya perlu datang di sebuah toko yang luas dan mencari apa yang mereka butuhkan.

Seiring itu juga, para pengusaha mulai berlomba mencari tempat strategis untuk mendirikan bisnisnya. Ini adalah saat-saat menyenangkan.

2. Tahun 90-an

Pada periode ini, munculah sebuah situs kecil yang menjual buku online ( Amazon ). Meskipun menarik, namun saat itu kemunculan Amazon masih kalah pamor dengan perusahaan ritel dan toko toko yang sudah lebih dahulu berdiri.

Tapi di sisi lain, para perusahaan ritel dan toko yang sudah berdiri juga mulai mengawasi keberadaan Amazon ini. Pasalnya jual beli yang dilakukan lewat situs ini memiliki potensi untuk menyaingi para toko dan ritel yang sudah berdiri.

3. Tahun 2000-an

Pada periode ini, Amazon sudah sangat maju. Apalagi saat itu munculnya fenomena GADGET membuat usaha Amazon semakin berkembang.

Bahkan Amazon pun mulai mengembangkan penjualnya. Dari yang semula hanya menjual buku, kini Amazon menjual peralatan kebutuhan masyarakat lainnya.

Seiring berkembangnya Amazon, para toko-toko dan mall mulai ditinggalkan masyarakat. Masyarakat memilih untuk berbelanja lewat online karena lebih mudah simpel.

4. Masa Depan

Meskipun saat ini mulai tergerus dengan keberadaan online, namun pada masa depan, ritel dan toko-toko diprediksi akan kembali bangkit. Para perusahaan ritel dan toko-toko ini mulai sadar dengan perkembangan zaman dengan membuka situs-situs belanja lewat online juga.

Di sisi lain, perusahaan ritel juga melakukan inovasi-inovasi untuk kembali menarik pelanggan agar mau berkunjung. Dan hal tersebut akan terbukti ampuh, karena masyarakat mulai berbondong bondong datang kembali ke toko-toko milik mereka.

▶ Next to OmahKEMASAN

©aiPIE2019
@MagLeMoe
KampoengKEMASAN.com
AIRkemasan.com

KOEAS sebagai Kontekstual dan Orientasi dari 4E yang berfungsi sebagai Assessor System

Jakarta, 28/02/2019 ( Djadoel ) – Pendekatan kontekstual menjadi pilihan sebagai solusi untuk mengatasi masalah yang selama ini dalam mengintegrasikan proses pemahaman konstruktivisme (contructivisme), bertanya (questioning), inkuiri (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian autentik (authentic assessment), yang dituangkan dalam media of print KAOS, BUKU, KARTU dan TAS dan dikemas dalam aplikatif QIOSK.

Sehingga E4KOEAS yang dituangkan sebagai Arti dari Kontekstual dan Orientasi dari 4E yang berfungsi sebagai Assessor System, diwujudkan dalam konten-konten pada KaosKOEAS, KartoeKOEAS, BookKOEAS dan juga TasKOEAS dikemas dalam aplikasi QioskKOEAS.

KOEAS Sebagai Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching & Learning – CTL) :

Karena melalui pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching & Learning – CTL) memiliki beberapa keunggulan, yaitu (1) Dapat menekankan pada proses keterlibatan secara persuasif sportif untuk menemukan materi, artinya proses pemahaman diorientasikan pada proses pengalaman langsung, (2) Mendorong agar dalam upaya pemahaman dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata, (3) Serta mendorong interaksi agar supaya materi pembelajaran dalam pemahaman dapat mewarnai perilakunya, oleh karena itu materi yang dipilih diarahkan kepada tema yang dapat menumbuhkembangkan kepribadian untuk membangun interkoneksi antara Teknologi, Edukasi, Budaya melalui Seni.

Karena metoda KOEAS dalam hal Kontekstual dan Orientasi dari 4E yang berfungsi sebagai Assessor System menggunakan media gambar / kreativitas serta inovasi dalam berorientasi pada model pembelajaran kontekstual ebagai media aplikasinya, sehingga tujuan dari KOEAS dapat meningkatkan penguasaan konsep KOEAS itu sendiri dalam hal memaknai sebagai Kolaborasi teknOlogi Edukasi dan budayA melalui Seni ( ART | AIR : Attitude Revitalitation Transformer | Attitutude through Integrity by Revitalitation )

Karena pada hakekatnya media off print yang dimaksud dapat memperluas atau memperpanjang kemampuan manusia untuk merasakan, mendengarkan, dan melihat dalam batas-batas jarak, ruang, dan waktu yang hampir tak terbatas lagi.

Dan media KOEAS dengan E4KOEAS sebagai media pendidikan sekaligus media HUB percepatan sejalan dengan Lingkungan dan Pemberdayaan, sekaligus secara pararel sebagai alat bantu ( HUB ) yang memiliki ciri-ciri khusus dan keseharian ( Originally & Ordinary ), yaitu media pendidikan yang memiliki identik khusus dan memiliki tujuan sesuai artinya dengan pengertian keperagaan yang berasal dari kata raga, suatu benda yang dapat diraba, dilihat, didengar, dan dapat diamati serta dinikmati dan sebagai GAYA HIDUP dan tak lekang karena waktu – mulai era Djadoel hingga Era Z Generation dan diharapkan dapat bertahan sebagai Legendary Media Edukasi, Pemberdayaan, Lingkungan serta Percepatan yang digunakan dalam rangka hubungan (komunikasi) dalam pemahaman akan fenomena yang terjadi dan berkembang . . .

@ngaos4e | Djadoel.com
©aiPIE2019
.

HOAX-tra adalah metode kontroling penggunaan teknologi anak-anak sebagai pencegahan tanpa melanggar privacy dan kesenangan anak.

0

Jakarta 27/02/2019 – lesehanMOE • Dalam episode “Arkangel” dari seri populer Black Mirror, seorang ibu yang over protective memutuskan untuk menanamkan chip di otak putrinya sehingga dia dapat menggunakan tablet dan aplikasi untuk memantau semua yang dilihat dan dirasakan oleh gadis kecilnya. Sistem ini, awalnya dirancang sebagai aplikasi kontrol orang tua, memungkinkan ibu tidak hanya untuk melihat apa yang dilihat anaknya, tetapi juga memonitor emosi dan suasana hatinya, dan bahkan “memfilter” gambar yang dapat membahayakan dirinya, sehingga gadis itu melihatnya sebagai pixelated.

Tentang kegunaan aplikasi kontrol orang tua

Apakah Kita harus sampai perlu terlalu jauh untuk menanamkan chip, seperti yang terjadi dalam serial diatas ?

Karena untuk menganalisis sejauh mana kegiatan ini dapat dianggap pemantauan dan pada titik mana mereka berubah menjadi invasi privasi anak adalah sebuah inovasi dan kreativitas yang justru sudah harus dibangun saat kita memahami Era Now tak sama dengan era DJADOEL, karena teknologi tak bisa dibendung dan hadir setiap saat tanpa kita minta, karena sebaliknya inovasi dan kreativitas yang terus dipacu akan memasuki era HOAX dimana HOAX adalah bagian dari konten upaya dalam mengukur viralitas bukan semata vitalitas dari seseorang atau sebuah komunitas.

Saat ini, sudah banyak adanya aplikasi untuk memantau geolokasi, aplikasi untuk mengontrol konten yang dapat dilihat anak-anak di internet dan di TV, aplikasi yang memberikan akses ke mikrofon sehingga orang tua dapat mendengarkan suara yang terjadi di mana mereka berada, dan bahkan aplikasi yang merekam semua yang terjadi di layar melalui pengambilan video, tanpa harus menanamkan teknologi itu sendiri kedalam tubuh anak atau kita sendiri, karena sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Pencipta telah memberikan teknologi yang paling sempurna dan DIA Maha Tahu akan hasil karyanya sampai destinasi yang akan dituju dan dicapai oleh manusia sebagai mahluk ciptaanNYA yang paling sempurna.

Menilik alat ini yang mungkin tampak seperti solusi hebat untuk semua masalah yang mungkin dimiliki induk dari digital asli, satu hal yang pasti, tidak semua aplikasi kontrol orangtua bekerja sama, atau memiliki fitur yang sama. Inilah sebabnya mengapa penting untuk menganalisisnya dan memilih yang paling sesuai dengan nilai-nilai Keluarga serta Budaya sesuai dimana kita di takdirkan ( di Lahirkan – Takdir Illahi ) . . It’s INDONESIAku ! It’s NKRI ! It’s Nationwide !

Karena banyak alat yang pada pandangan pertama tampak sangat berguna bagi orang tua atau kita sebagai pengguna atau penggemar atau bahkan sekedar Visioner karena sebuah kebutuhan dan keinginan, yang pada akhirnya dapat menjadi invasif untuk Anak Negeri, dan ini akhirnya memicu reaksi yang berbeda dengan apa yang diharapkan orang tua dan kita semua sebagai seorang yang ingin menjadikan destinasi terbaik untuk anak Negeri tak semata anak kita sendiri.

Alih-alih karena semata merasa sudah terlindungi dan terkendali, anak mungkin merasa terjebak dan mulai mencari cara untuk melarikan diri dari kontrol ini dan membawa keinginan untuk mengakses dan mencari komunitas yang memiliki situasi yang sama . .

HOAX-tra sesungguhnya terletak kuncinya bukan tentang kontrol mana yang yang kita pilih, tetapi lebih pada percakapan ( KOMUNIKASI ) di sekitarnya, dan dalam menemani anak di dunia digital, sama seperti yang kita lakukan di dunia fisik. Karena semua HOAX adalah dibuat bukan lahir sendiri dan inilah yang perlu dikomunikasikan bukan dikomentari secara ‘Absurd’, sehingga sesuatu yang tidak jelas semakin luas ketidakjelasannya . . .
Tak semata “kabur” ( tak jelas ) tapi pada akhirnya “Bacuuut !” ( Istilah “Kabur – Lari / melarikan diri” anak-anak era now ) atau “Cabuut !” – era Tempoe Doeloe ( DJADOEL ) . . .

HOAX-tra adalah tentang mengajar mereka ( Saat ini tak semata Anak-anak namun juga sudah ada ABG (Angkatan Babe Gue yang juga dapat disebut kembali ke Anak-anak) karena GAPTEK yakni dengan melalui DIALOG ( atau era saat ini DIA LOE GUE (?) ) dan dengan dukungan alat-alat digital, apa bahaya dan risiko dari internet atau perangkat serta aplikasi yang terintegrasi di dalamnya.

Apa tanggung jawab mereka, apa yang harus dan tidak seharusnya mereka lakukan, dan bagaimana mereka dapat melindungi diri mereka sendiri, saatnya kita memaknai hakekat dari HOAX-TRA, karena saat ini terus berlomba antara PENCIPTAAN KARYA DIGITAL dengan PEMAHAMAN KARYA DIGITAL itu sendiri

Sehingga sebuah dilema diberangkatkan oleh kita sendiri dan kira-kira sudah harus bisa menjawab dimana destinasi yang akan kita capai . . .

Era digital adalah era dimana Era keterbukaan tanpa batas, dan tanpa kita sadari Nutrisi sebagai asupan kitapun memasuki era fenomenal dengan banyaknya penawaran yang
Nutrisi yang menjadikan banyak kekhawatiran akan dunia era digitalisasi saat ini.

Integritas Orang Tua & Anak-anak ( Young Orienting ) seputar apa yang dipikirkan anak-anak tentang keamanan online bersama – OW! YOI!

Hasil pantauan seputar teknologi yang diberikan kepada anak-anak dengan metode KOEAS, seputar apa yang mereka pikirkan tentang keamanan online? Apakah mereka melihatnya sebagai topik penting dan sama dengan orientasi yang dimiliki orang tua ?

Apa yang paling mereka takuti dari internet di era globalisasi serta transformasi saat ini ?

Pada saat ini fenomena yang timbul adalah banyak yang mengalami situasi yang tidak nyaman di dunia internet, namun belum dapat disampaikan secara komunikatif, dan sebenarnya yang paling utama mereka takuti dari internet / di era globalisasi dan transformasi era now adalah kekhawatiran seseorang mencuri kata sandi dan berpura-pura sebagai mereka, orang menemukan informasi pribadi tentang mereka, atau orang yang mengirim foto mereka ke kontak mereka ( dengan orientasi sesuai kepentingan si pengirim ).

Namun sebaliknya sesungguhnya yang menjadi fenomena dan mungkin menarik bagi orang tua / generasi yang lebih tua , sesungguhnya banyak generasi muda yang siap untuk berbicara dengan mereka / generasi orang tua tentang merawat dan situasi yang dapat muncul di internet serta kekhwatiran yang timbul diatas, dan inilah yang menjadi konten KOEAS, untuk menjadikan kegiatan Originally Woman ! Young & Older Integrity !
OW ! YOI! adalah sebuah aktifitas yang sangat ditunggu tunggu di era kekinian.

Saatnya Komunikasi secara terbuka dan siap untuk REBOOT semata mengurangi fenomena RIBUT yang terus berputar di sekitar era digital dalam membangun Digital Indonesia melalui Preventif Parenting Digital . .

• E4SEC is not just E4Secretary “coz E4Security through by QVAassessor being REBOOT

@maglemoe
©aiPIE2019
.

Membangun Karakter Bangsa di Era Milenial ( Character through Integrity Empowerment by Personality Imvolment Energizing )

0

JAKARTA 23/02/2019 ▪ PusatLiputan.com – Arus Digital yang lebih akrab dikenal Era Now ( Milenia ) sungguh menjadi era fenomenal dan banyak hal yang dapat “menarik” yang mengalir dan tanpa dapat ditolak terus memasuki segala aspek dalam kehidupan masyarakat dewasa ini.

Budaya Milenia menjadikan gaya hidup ( E-Life style) yang merupakan dampak paling kentara akibat fenomena yang tanpa disadari menjadi keseharian ( Ordinary ) walaupun belum tentu Original . Globalisasi sendiri diartikan sebagai proses mendunianya seluruh kehidupan sosial, ekonomi, politik hingga budaya antara satu negara dengan negara lainnya hingga seluruh dunia dinyatakan tidak memiliki ‘batas’ alias borderless. Dan inilah yang menjadikan era tanpa batas menjadikan era milenia menjadi era fenomenal.

Berbagai konten yang masuk dengan bebas tanpa dapat dicegah, integrasi dengan berbagai aspek & permasalahan tiap negara dengan mudahnya terserap baik diminta atau dengan mudahnya melalui fasilitas notifications yang masuk melalui internet, media sosial, maupun aplikasi berbasis internet lainnya dalam satu perangkat yang disebut gadget ( termasuk aneka Games termasuk di dalamnya ).

Saat ini menjadi konsumsi dikalangan generasi muda Indonesiaku sehingga dapat juga disebut sebagai generasi gadget atau yang sering dikenal seperti yang sudah disebut diawal artikel ini yakni sebagai generasi milenial atau Era Now !

Bagaimana menyikapi derasnya arus teknologi yang semakin pesat berkembang dan akhirnya menggilas waktu kita untuk menggeluti hal ini, siap tidak siapnya kita dalam menerima arus gadget mania ini harus tetap dibuat batasan-batasannya pada diri kita masing-masing , agar tidak tergilas derasnya arus informasi via gadget. Bijaklah kepada diri kita sendiri untuk memilah derasnya arus informasi dari gadget yang kita miliki. Ingat saat ini… the world is in your hand.

Secara meluas kalangan remaja Indonesia telah mengenal dan menggunakan akses internet dalam keseharian mereka yang sudah menjadi gaya hidup ( E-Lifestyle ). Dan yang menjadi fenomenalnya adalah pada kenyataannya kebanyakan dari mereka belum mampu untuk memilah antara aktivitas internet yang bersifat positif dan negatif, serta cenderung mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial mereka dalam penggunaannya.

Inilah yang saat ini sudah menjadi kekhawatiran serta sudah masuk pada tahapan keluhan masyarakat akhir- akhir ini, hingga telah memasuki Fenomena Mental Cause tak semata Generasi muda bangsa juga para pendahulu yang seharusnya menjadi komunitas yang terintegrasi baik secara Sinerji atapun Enerji yang persuasif supportif dalam menunjang kemajuan bangsa, namun saat ini justru muncul berbagai perilaku kesehariannya yang mengesampingkan etika dan moral. Waktu demi waktu terus berlalu, namun dampak yang ditimbulkan arus globalisasi kian marak dalam budaya anak muda saat ini.

OW! YOI! ( OW – Originally Woman through Young & Older Integrity ) saatnya kita yang sebagian besar masyarakat khususnya wanita sebagai komunitas terbesar selain anak muda yang di era milenia ( era now ) telah terpengaruh oleh budaya barat yang dijadikan sebagai ‘kiblat’ setiap perilaku mereka, sehingga hilanglah sudah identitas dan jati diri mereka sebagai Bangsa Indonesia, yang memiliki konsep Keluarga & Budaya yang tentunya memiliki perbedaan semata INDONESIAku adalah Negeri Young Kaaffah semata Ridho Illahi ( Hakekat NKRI ) sangatlah perlu berkaca dari permasalahan yang terjadi, maka AYO ! sudah saatnya kita bersegera melakukan upaya-upaya yang dapat membangun karakter bangsa khususnya dalam hal budaya di Era Milenial ini ( Character through Integrity Empowerment by Personality Imvolment Energizing ).

Melalui konten 4E ( Education, Environment, Empowerment & Energizing ), adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan – melalui proses pendidikan ( Reference through by : Pola & Model yang diterapkan di sekolah-sekolah. Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa, “pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak )” – Dengan dikemas melalui 4E diatas diimplementasikan dengan Model & Modul KOEAS ( Kolaborasi teknOlogi Edukasi budayA melalui SENI (ART) ) adalah bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup Anak Negeri INDONESIAku !

Karenanya yang perlu ditingkatkan adalah pemahaman tentang Nation Character ( Karakter Bangsa ) termasuk didalamnya adalah tentang Budaya & Keluarga. Karena pembentukan karakter seseorang juga terpengaruh dari budaya keluarga dan lingkungan sosialnya.

AYO! Kita bersama membangun QVA dalam menilai dan mengimplementasikan pesan yang didapatkan dalam pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peranan yang besar dalam membangun karakter bangsa Indonesia, dan dengan percepatan yang terjadi di era milenia saat ini perlu sudah waktunya penambahan sinerji & enerji edukasi dengan pemahaman Lingkungan, Pengembangan SDM serta mengimbangi Percepatan.

Dan yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah apakah proses pendidikan di Indonesia hingga saat ini belum menunjukkan adanya pembangunan karakter bangsa? Sehingga terkesan tergolong Djadoel ? AYO saatnya INDONESIAku ZILAU tak semata sebatas menjadi Pusat Liputan melalui UKM4Gallery & DESA.ws

Sehingga terkesan sampai saat ini pendidikan di Indonesia merupakan pendidikan yang masih berorientasi pada penyampaian teori daripada penerapannya dalam kehidupan. Sehingga tidak ada keseimbangan antara IPTEK dengan akhlak atau perilaku generasi muda, saatnya kita memahami hakekat QVAassesor sebagai pendampingan baik dari sisi Edukator, Siswa termasuk Keluarga dan Budaya.

Seiring berjalannya waktu, dimana generasi muda sudah saatnya siap bersama dengan generasi “Djadoel” yang saat ini justru lebih mudah terpengaruh oleh arus globalisasi yang melunturkan perilaku-perilaku kebangsaan mereka ( Tak sebatas Generasi Mudanya juga di lingkup Generasi ‘Djadoel’, padahal ilmu yang diberikan baik di sekolah maupun di kampus tergolong semakin berat dan mulai bersaing dengan ilmu yang berada di luar sana. Keseimbangan diantara berbagai pihak ( OW! YOI! ) saling Bersinerji & Berbagi Enerji yang mana keduanya ( Aspek Teknologi & Budaya ) dapat diserap dan diperoleh generasi muda yang didukung bersama generasi-pendahulunya untuk tercapainya kecerdasan serta bermartabat ( Attitude ) yang siap memajukan bangsa dengan model Emphatically.

Dengan menyimak elemen pokok dalam pendidikan yaitu aspek-aspek affective, cognitive, dan psychomotoric saatnya PHISYCHOMOTORIC melalui Phisycolog Endorsement untuk mengimbangi dan mengatasi kesenjangan Mental Cause yang muncul akibat belum siapnya para generasi muda bahkan lingkungan terdekatnya ( Keluarga serta Komunitas sekitarnya )

Disaat inilah semakin pentingnya peran ilmu psikologi / kejiwaan dalam menghadapi semua permasalahan yang timbul akibat daripada efek gadget mania. Karena sangat dashyatnya efek mental seseorang pasca aktifnya orang tsb di dumay ( dunia maya ) atau seringnya orang tsb berselancar di internet, tetap membawa dampak psikologis kepada orang ybs dan lingkungannya.

Ingat jangan anggap hal sepele bahwa semakin pesatnya kemajuan iptek harus diselaraskan dengan peran ilmu psikologi dan agama agar dapat mengantisipasi side effect gadget mania.

Aspek kognitif yang diharapkan dalam program QVAassesor sekaligus juga mulai dengan akan menghadirkannya kembali Media yang berorientasi E4Secretary ( Aktivitas Secretary dengan konten 4E – bagian dari BookKOEAS – dari Modul KOEAS ) diharapkan dapat menghasilkan kemampuan peserta QVAassesor kelak untuk menyampaikan kembali materi atau ilmu pengetahuan yang didapatkannya melalui konten yang diberikan serta tak semata menyerap namun juga memahami untuk mengelola dan mengembangkannya dan selanjutnya dalam tahapan-tahapan Penerapan, Analisis, mensintesis, dan Evaluasi hasil Mentoring yang didapat / dikelola bersama.

Tentunya aspek afektif ( affective ) dikaitkan dengan bagaimana sikap dan cara peserta QVAassesor dapat menilai dalam menerima konten yang ada sebagai MediaHUB, dan sudah dibarengi aspek psikomotorik dengan adanya keikutsertaan aspek psikologi sebagai kompetensi dalam menerapkan konten-konten yang terdapat dalam QVAassesor modul dan model dalam MediaHUB yang ada yang kelak menjadikan MAG LE’MOE sebagai afektif Brain Awareness HUB content.

MAG LE’MOE adalah Magazine LESEHAN MOE, yaitu LESEHAN ( LEmbar SEHat Anak Negeri, Lembar Edukasi Seputar Energi Hijau Anak Negeri ) & MOE ( Management of Emphaty ) yang menginspirasi dan mengajak bangkitnya kepedulian terhadap keberlangsungan eksistensi Anak Negeri Indonesia ( Masyarakat Bangsa Indonesia ).

Dalam memberikan pemahaman mulai dari Keluarga dan Budaya adalah bagian utama dalam pembentukan karakter bangsa dan harus terus dikembangkan nilai-nilai yang pada intinya sudah pada tahapan memahami BUDAYA MALU pada diri komunitas QVAassesor melalui pembelajaran pada Mata, Hati, Telinga, Otak dan Fisik dimana kali ini sudah diharapkan akan pemahaman TEKNOLOGI adalah Teknik Olah Otak dan Logika dengan Model dan Modul KOEAS.

Keterkaitan dalam hal ini, konten LAYANG GURU sebagai bagian dari Model dan Modul Guru maupun komunitas Pendidik lainnya merupakan interaksi konten dan media HUB yang sesungguhnya adalah berfungsi /berkedudukan sebagai fasilitator yang memiliki peran untuk membimbing komunitas QVAassesor hingga mampu secara aktif mengembangkan potensi dirinya, serta mengembangkan proses untuk berbagi pengetahuan dengan sekitar sehingga ilmu yang diserap dapat diterapkan pada orang lain dan lingkungan sekitar.

Lebih pentingnya lagi apabila dalam penerapannya juga dilakukan penghayatan nilai-nilai menjadi kepribadian dalam bergaul di lingkungan masyarakat, mengembangkan kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera dan bermartabat sehingga hakekat Edukasi, Lingkungan, Pemberdayaan dan Percepatan ( 4E : Education Environment Empowerment Energizing ) ini berjalan saling bersinerji dan juga memberikan Enerji dalam bentuk Character Attitude Imvolvement through Personality Integrity by Emphaty ( CAIpie ).

Filosofi CAIpie ( baca CAI pie = CAI pay , CAI piye ) adalah CAI dalam arti bahasa Sunda yaitu AIR, sedangkan pie ( dibaca piye , arti dalam bahasa Jawa = bagaimana ? ), sehingga yang dimaksudkan adalah AIR nya bagaimana ? Bagaimana jalannya AIR ? Adalah gambaran Bagaimana Hidup kita ini ? Bagaimana mengelola hidup di dunia dan di akhirat nanti ?

Banyak orang berkata biarkan seperti air mengalir, let it flow … justru seharusnya kitalah yang mengatur dan mengelola bagaimana arus air itu sebaiknya mengalir dengan baik dan benar.

Hakekat pada dasarnya pendidikan yang juga dimulai dari Keluarga, dalam memahami hakekat budaya sebagai Nationwide Character ( Karakter Kebangsaan ) sebaik-baiknya dapat dimaknai sebagai konten yang mengembangkan nilai – nilai budaya dan karakter bangsa pada diri QVAassesor itu sendiri sebagai warga negara yang religius, nasionalis, dan kreatif sehingga dapat mewujudkan kemajuan dan keunggulan bangsa di masa mendatang dengan dimulainya adanya Integritas antara generasi DJADOEL dengan YOUNG generation secara Awareness yang di bangun dengan Attitude through Young Orientation sehingga akan terus tumbuh kembang AYO !

Dimana Funding Father telah memberikan pernyataan bahwa bangsa Indonesia merupakan kesatuan seluruh wilayah dan hati Bangsa Indonesia serta kepercayaan diri bangsa Indonesia yang tinggi sehingga mampu menjadi bangsa yang patut dibanggakan.

Berkaca dari pendapat yang telah dikemukaan oleh beliau, maka solusi yang paling tepat dalam membangun karakter bangsa di era millenial saat ini adalah dengan membangun dan menata kembali ( REVITALITATION ) karakter dan watak bangsa Indonesia sendiri dengan terus melakukan pengembangan diri untuk menerapkan pendidikannya di masyarakat dan selalu didampingi dengan kegiatan REINVENTARISASI secara system . . .

Disinilah diharapkan Kreativitas dan Inovasi yang Original dan Ordinary yang terkait dengan lingkungan untuk ikut berpartisipasi dalam pengembangan karakter bangsa yang religius, nasionalis dan kreatif sehingga saat ini menjadi Trend sebagai INDUSTRI KREATIF !

AYO ! OW ! YOI ! saatnya kita bangun sinerji dalam pemahaman yang termasuk di dalamnya pada 80ribu-an DESA / KAMPOENG, yang tentunya memiliki DIALEG / Bahasa serta Kebudayaan di setiap daerah adalah sangat mungkin dan seharusnya dapat dijadikan salah satu sarana yang efektif dalam penyampaian ilmu di masyarakat. Pendidikan ‘luar kelas’ pun juga dapat diterapkan agar peserta didik tidak terpaku pada hafalan materi yang ia dapatkan, selain disajikan beberapa studi kasus atau menganalisis langsung suatu permasalahan dalam masyarakat kemudian diterapkan dalam proses kehidupannya juga dapat diberikan dalam bentuk MEDIA OFF PRINT yang telah termasuk dalam Kemasan KOEAS ( BookKOEAS, KartoeKOEAS, KaosKOEAS serta QioskKOEAS ) sebagai inovasi kolaborasi yang Original dan Ordinary !

Dan juga perlu diperhatikan secara cermat penerapan yang dilakukan haruslah sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku sehingga tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat dari setiap komunitas yang terbangun di dalamnya atau interaksi yang ada pada dan dari 80 DESA / KAMPOENG, dan disinilah peran dari kaum cendekiawan sangat diperlukan untuk meningkatkan pendidikan dan karakter bangsa yang lebih inovatif kedepannya untuk memajukan Bangsa Indonesia.

AYO ! OW ! YOI ! bersegera mewujudkan generasi milenial ini bukanlah semata sebagai generasi gadget mania, melainkan sebagai generasi pembangun karakter bangsa yang siap memajukan Indonesia dengan tak melupakan hakekat QVA atau CAIPIE itu sendiri sebagai Quality Value of ART serta Character Attitude through Imvolvement by Personality Integrity by Emphaty !

@djadoel4e l @maglemoe l @ngoewas4e
©aiPIE2019

DUNIA PROGRAMMING Sebagai Media Digital Preventif melalui Digital Parenting

0

Jakarta, 09/01/2019 – Digital Preventif melalui Digital Parenting tidaklah semata memahami cara dan menggunakan serta memiliki kemampuan dalam pengelolaan media sosial, namun dengan perkembangan yang sangat cepat namun keterbatasan akan integritas antar sesama yang sangat banyak ragam kompleksitas didalamnya, pada kenyataannya sering Digital Parenting tak semata menjadi konten preventif, namun juga dibutuhkan Integritas dalam hal meminimalkan serta mensinergikan akan kebutuhan dengan percepatan yang terjadi.

Berkaca dari banyaknya konflik yang disulut dan disebarkan via sosmed atau sebaliknya, begitupun multifungsi yang ada di dalam sosmed, menjadikan sosmed adalah tumpuan utama dalam interaktif antara sesama.

#MenjadiGaramDunia Melalui AirKemasan dan KampoengKemasan

Sudah selayaknya para pihak yang berkemampuan dan berkecimpung dalam bidang platform atau bagian dalam interaksi Developer serta merta pengelolaan admin sosmed memasuki lingkungan sekolah.

Bukan saja menyentuh kurikulum layaknya web sekolah dengan domain instrumen institusi pendidikan namun juga sudah saatnya memasukan domain komersial atau media sosial pada umumnya yang sudah sangat familiar, dari kota sampai pelosok desa.

Yang utama sesungguhnya lebih jauh memberi mentoring dan konsultasi langsung di sekolah serta tidak luput orang tua termasuk para konsumen dan produsen yang terkait dengan bidang Edukasi, Environment, Empowerment dan Energizing dan E-Lifestyle yang ternyata sudah membuka peluang dan jarak ‘jeda’ yang sangat jauh antara satu sama lain, karena semata menanggapinya sambil lalu dan seperlunya.

Karena dengan memadukan antara Teknologi Edukasi Budaya & Agama serta Seninya ( Tata caranya ) dan juga secara khusus menyentuh bidang Seni yang sudah berkembang menjadi industri kreatif saat ini, sehingga tidak hanya kreativitas namun juga moralitas sudah menjadi kesatuan yang tak terelakkan.

Karena saat ini Vendor sosmed seperti Google, Facebook Inc. dan Twitter, sudah bergerak secara interaktif langsung dalam system menu masing-masing namun tidak banyak yang memiliki kesadaran perlunya kebutuhan Assessor dalam implementasinya.

Selain Pemerintah dengan Kemenkominfo dan Kemendikbud harus bisa memfasilitasi juga sudah sangat banyak dibutuhkan keterlibatan Assessor dalam bentuk Mentoring langsung atau secara online namun mudah dan simpel serta dapat mudah untuk di transformasikan dalam keseharian ( Ordinary ).

Wacana literasi digital, literasi web, dan literasi media harus segera bergerak, namun tidak cukup dengan bahasa baku secara teknik atau digitalisasi aplikatif, karena beragamnya edukasi dan budaya di Indonesia.

#MenjadiGaramDunia Melalui AirKemasan dan KampoengKemasan

Sesungguhnya sudah banyak akademisi dan peneliti Indonesia yang paham betul peliknya persinggungan dunia digital dan nyata dan termasuk para pengamat pun tahu pasti belajar sekian tahun atas fenomena konflik via sosmed yang terjadi, dan termasuk juga dibantu komunitas yang peduli dengan literasi digital.

Gerakan ini bukan suatu kemustahilan sebenarnya sudah banyak bermunculan di banyak node ( Karena node adalah merujuk pada area yang dapat terjangkau dengan signal digital ).

Dalam artikata lain ada juga area yang belum dapat dijangkau oleh komunitas yang memiliki kemampuan dan kepedulian akan preventif dan digital parenting ini.

Karenanya fokus dalam menyelamatkan generasi muda / penerus Anak Negeri tercinta Indonesiaku ke depannya adalah menjadi tanggung jawab tak semata pemerintah, namun faktanya, generasi dulu dan saat ini sebagai user sosmed sulit untuk bisa bijak di dunia maya, sehingga sinerji dan enerji untuk terbangunnya Integritas sangatlah sudah menjadi prioritas utama.

Dengan melihat akibat hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber, dll yang menyulut konflik di dunia nyata yang berakibat antara kebutuhan dengan destinasi yang dibutuhkan menjadi buntu ( stagnan ).

Hal ini juga diakibatkan munculnya perang tagar menjelang Pilpres, banyak pihak berseteru, sehingga semua kegiatan sekolah atau pun sesungguhnya juga mengarah kepentingan tertentu, mengakibatkan demam dan destinasi membutuhkan kejelian dalam membuat dan menemukan Desain, Domain serta layaknya harus dapat menjadi Dolanan yang aplikatif dan inovatif sehingga masuk dalam kelompok Edukasi Industri Kreatif yang dihasilkan melalui Dunia Programming, serta seiring dengan konten enerji terbarukan sehingga dapat terbangun sinerji dan enerji antara konten Dunia Programming dengan destinasi yang diharapkan, menjadi integritas media web portal serta sosmed yang interaktif dan mudah untuk dikelola, dan tidak terdapat batas ketergantungan agar secara simultan dan mudah di update sesuai kebutuhan user serta kurikulum termasuk lebih kepada ekstra kurikulum yang saat ini menjadi konten yang sangat dibutuhkan dalam hal Digitally Assessor Preventif & Parenting.

Serta merta dari adanya pelarangan sampai persekusi pun terjadi di dunia nyata, termasuk juga isu radikalisme yang menghantui secara systematis, yang tentunya akan berakibat buruj bagi pihak-pihak yang sudah tercuci otaknya ( Brain Washing Victim ) yang sudah semakin berani dan vulgar ( dari berbagai sisi – termasuk yang terkait dengan norma kesusilaan ), yang menjadi menjadi kemasan terselubung dan konten-konten digital yang menjadi tantangan dalam prefentif & pareting digital.

#MenjadiGaramDunia Melalui AirKemasan dan KampoengKemasan

Tanpa kita sadari yang sebenarnya terjadi di lapangan adalah lamban dan terlambatnya pemahaman serta transformasi dunia digital sebagai bagian dari konten yang membangun attitude ( etika ) serta integritas inovatif di bidang pendidikan serta seni dan budaya kita yang sangat beragam dengan konten hampir mencapai 80ribu desa / kampoeng, yang sesungguhnya sosmed bisa jadi bagian integritas bukan sebaliknya sebagai pemecah kesatuan bangsa ini, sehingga bukan sebagai Brain Washing sebaliknya menjadi Brand Awareness dan Brain Identity sehingga HOAX dapat kita bangun secara persuasif sportif menjadi HOAX-tra !

Dan urgensi tindak preventif & parenting digital konkret adalah menjadikan integritas transformasi sosmed menjadi bagian dari substansi serta konten sekolah yang tak sebatas kurikulum namun sudah menjadi bagian dari Usaha Koperasi bagi lingkaran yang terintegrasi ( Green Ocean : Murid – Orang Tua dan Komunitas Alumni ) dan beberapa aplikasi sosmed dalam Dunia Programming yang konkret sedapat mungkin bisa dalam bentuk demikian.

#MenjadiGaramDunia
AIRkemasan.com
KampoengKEMASAN.com
JoeraganDESAIN.com

©aiPIE2019
. #MenjadiGaramDunia

Popular Posts

My Favorites

Simple Things Makes Me Happy

Remember, a Jedi can feel the Force flowing through him. I can't get involved! I've got work to do! It's not that I like...

Back On The Road

Chat via Whatssapp